|

Ki SUPRODJO HADI sosok Dalang kondang dari Magelang

Dalang

Magelang – Peranan Dalang sebagai Sutradara dari pertunjukan Wayang sama sekali tak tergantikan alias sangat penting. Dalang adalah sosok penyampai pesan moral, pesan nilai spiritual ajaran budi pekerti yang bersumber pada Agama. Dalang tidak hanya sosok yang di puja oleh para pandemen wayang namun juga harus mampu menampilkan sikap perilaku seorang panutan yang menyatu dengan pribadinya. Dengan berjalannya waktu pengalaman dari panggung ke panggung, dari daerah ke daerah secara alamiah akan membuat kematangan seorang Dalang.

Hal tersebut disampaikan Ki SUPRODJO HADI di kediamannya Jl. Kenari 179. Perum Griyo Rejo Indah, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
Lebih lanjut Dalang kondang kelahiran Gunungkidul 21 Juni 1956 ini mengatakan dalam berkesenian khususnya seni Budaya Jawa saya tidak segan segan untuk saling berbagi ilmu dengan siapapun, bahkan saya banyak dapat ilmu dari seniman muda seperti Noeryanto pemilik ‘Omah Mbudur’ Jowahan Borobudur, Dharma Wijaya pemilik sanggar seni Dua Atap dan beberapa kali saya ‘Tukar Kawruh’ dengan Trie Utami penyanyi dari Jakarta di Pendopo Omah Mbudur, jelasnya.

Ki SUPRODJO HADI Putra pasangan Projodarsono dan Satiyem ini memang pantas menjadi pilihan dan Favorit para pandemen wayang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan darah seni pedalangan yang mengalir dari orang tuanya dapat membawanya ke Riau, Palembang, Lampung dan beberapa kali pentas menghibur para perantau dari Jawa di Kalimantan.

Olah sabetan, Suluk dan antarwacananya dipadu dengan lengkingan suara merdu Pesinden yang berjajar rapi di sebelah Ki Suprodjo Hadi, membuat suami dari Siti Maryati ini tak pernah ditinggalkan para pandemen wayang kulit dari arena pagelaran sebelum acara selesai.

Pribadi yang menjadi ciri khas seorang Ki SUPRODJO HADI terlihat dari tutur katanya ketika berbincang dengan siapapun baik pandemen wayang maupun pecinta seni lainnya, membuat masyarakat semakin mengenal namanya.

“Hanya memang dalam berkolaborasi dengan beberapa seniman saya selalu menekankan agar tetap memakai seni yang ‘nyambung’, misalnya kalau wayang ya kolaborasinya dengan geguritan” ucapnya santai sambil tersenyum mengakhiri bincang kami. (Jenar)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=40556

Posted by on Mar 11 2019. Filed under News, Otomotif, Pendidikan, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented