|

Unik, Penyerahan Diri Mantan Bos Lippo Dibantu Eks Ketua KPK

Jakarta — Chairman PT Paramount Enterprise Internasional, Eddy Sindoro menyerahkan diri kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Atase Kepolisian di Singapura, Jumat (12/10) pagi waktu setempat. Diketahui, tersangka suap pengurusan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu telah menghilang sekitar dua tahun dan telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pada sekitar Agustus 2018.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menuturkan dalam proses ini, KPK dibantu oleh otoritas Singapura serta instansi terkait seperti Polri, Imigrasi, dan kedutaan. Menariknya, proses penyerahan diri Eddy ini dibantu oleh mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki.

“Sekitar pukul 12.20 waktu setempat Eddy dibawa ke Jakarta. Tim KPK yang membawa Eddy sampai sekitar pukul 14.30 WIB, di Gedung KPK. Saat ini sedang dalam proses pemeriksaan,” ujar Saut di Gedung KPK Jakarta, Jumat (12/10).

Diketahui, Eddy sudah menghilang sejak dipanggil sebagai saksi dalam kasus tersebut, pada Mei 2016. Saat itu dua panggilan penyidik KPK tak digubris Eddy tanpa keterangan yang jelas.

“Mei 2016 KPK dua kali memanggil ESI untuk diperiksa sebagai saksi, namun ESI tidak hadir tanpa keterangan,” kata Saut.

Saut pun merinci kronologis penyerahan diri Eddy. Sebelumnya KPK menetapkan Eddy sebagai tersangka pada sekitar November 2016. Menurut Saut, pihaknya pun kembali melayangkan surat panggilan kepada Eddy untuk diperiksa selaku tersangka. Namun, tetap saja Eddy tak memenuhi panggilan tanpa keterangan.

Eddy Diduga Memperpanjang Paspor Indonesia di Myanmar

Setahun kemudian, sekitar November 2017, Eddy terlacak dan diduga mencoba melakukan perpanjang paspor Indonesia di Myanmar. Memang sejak akhir 2016 hingga 2018, Eddy diduga berpindah ke sejumlah negara, mulai dari Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Myanmar. Menurut Saut, pihaknya kemudian meminta nama Eddy masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), pada akhir Agustus 2018.

“Pada 29 Agustus ESI dideportasi untuk dipulangkan ke Indonesia,” kata Saut.

Namun, kata Saut, ketika tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada 29 Agustus 2018, Eddy justru kembali terbang menuju Bangkok, Thailand. Saut menduga kepergian Eddy ke Bangkok, tanpa melalui proses Imigrasi.

Selang dua bulan, Eddy ternyata berada di Singapura. Pagi hari waktu Singapura, Eddy lantas menyerahkan diri melalui Atase Kepolisian RI di Singapura. Tim KPK pun langsung menjemput Eddy dan membawa ke markas KPK.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Ruki mengungkapkan sekitar dua minggu yang lalu dirinya mendapat informasi dari seorang jaringannya bahwa Eddy ingin menyerahkan diri kepada KPK. Dia pun langsung meminta kepada yang bersangkutan datang ke Kantor KPK, Jakarta.

“Saya kan polos saja kalau memang mau serahkan diri datang saja ke KPK, menyerahkan diri,” kata Ruki.
Ruki tak Begitu Paham dengan Kasus yang Menjerat Eddy

Setelah itu, Ruki langsung berkoordinasi dengan KPK perihal keinginan Eddy menyerahkan diri. Bahkan Ruki mengaku tidak begitu paham dengan kasus yang menjerat Eddy.

Ia pun langsung ingin mengetahui kasus dan perkembangan penanganannya sejauh ini. Setelah menerima penjelasan dari pihak KPK mengenai proses penyerahan diri seorang tersangka, baik di dalam negeri ataupun luar negeri, dirinya langsung menyampaikan kepada jaringannya itu.

“Ternyata yang bersangkutan ada di Singapura. Saya telepon Atase Polri di Singapura, saya katakan ada orang nama ini, tolong dibantu untuk kepentingan penegakan hukum,” ujarnya

Menurut Ruki, Atase Kepolisian RI di Singapura kemudian menghubungi Direktur PIPM dan Direktur Penyidikan KPK untuk menyampaikan rencana penyerahan diri Eddy Kamis (11/10). Dan akhirnya dijemput tim KPK Jumat (12/10)pagi.

Ruki mengatakan bahwa dirinya bukan mediator Eddy dengan KPK. Dia mengaku tak sengaja dihubungi oleh seorang jaringannya yang memberikan informasi bahwa Eddy ingin menyerahkan diri kepada KPK. Oleh karenanya, Ruki pun membantu sesuai dengan saluran yang resmi, yakni KPK.

“Saya bukan mediator, saya cuma, orang itu minta bantuan ke saya, ya saya salurkan, sesuai salurkan resmi yang ada. Saya sendiri tidak kenal Eddy, enggak ketemu sebelumnya, yang saya kenal adalah jaringan saya, ternyata jaringan saya link up, dalam dunia investigasi, intelijen, pemeliharaan jaringan harus terus dijaga,” tegasnya.

Diketahui, Eddy Sindoro telah ditetapkan sebagai tersangka sejak November 2016 dan tak pernah memenuhi panggilan penyidik KPK. Atas sikapnya yang tidak kooperatif, KPK terus mengultimatum agar Eddy Sindoro yang saat itu masih berada di luar negeri segera menyerahkan diri ke lembaga antirasuah.

KPK menetapkan Eddy Sindoro sebagai tersangka suap kepada mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution, pada akhir 2016. Eddy diduga memberikan sejumlah uang kepada Edy Nasution terkait dengan sejumlah perkara yang berkaitan dengan Lippo Group. Sementara Lucas dijerat Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1.(Republika)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=37292

Posted by on Okt 12 2018. Filed under Ekonomi, Kriminal, News, Pendidikan, Politik, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented