|

Ketua MUI Pesawaran di Aniaya Usai isi Tausiyah

 
Pesawaran – Peristiwa penganiayaan terhadap ulama secara fisik kembali terjadi, Peristiwa itu terjadi usai ulama yang dikenal dengan ‘Ustadz Kangen (Kang Endang) itu mengisi tausiyah di Desa Ketapang, Kecamatan Teluk Pandan, Jumat (7/9).

Kejadian itu berawal ketika sang Ustadz selesai mengisi tausiah disalah satu acara resepsi walimatul Urus.Tiba-tiba ada tiga orang menghampiri sang Ustadz ketika hendak pulang dari acara tersebut.

Belum saja ia masuk kekendaraan nya sangustadz langsung ditarik dibawa kesalah satu rumah warga oleh tiga orang pelaku.Kemudian sipelaku langsung tanpa basa basi mengeluarkan kata-keras sambil membuka baju dengan mengeluarkan bahasa tantangan untuk adu fisik kepada sang Ustadz.

Bahkan salah satu pelaku yang berinisial PRD yang merupakan pengurus salah satu organisasi kemasyarakatan melayangkan pukulan ke bagian muka sang Ustadz sambil mengatakan agar sang Ustadz mengakui apa yang sudah ia katakan atas dugaan tuduhan pencemaran nama baik pelaku.

Berdasarkan informasi yang pelaku dapatkan bahwa nama baik pelaku sudah di cemarkan oleh Sang Ustadz.Selain pelaku yang berinisial PRD,Pelaku yang berinisial HSN yang merupakan Bakal Calon Anggota Legislatif dari salah satu Partai terus mengintimidasi dengan kalimat-kalimat kasar dan tidak layak kepada Ustadz Endang Zainal khidir yang beberapa waktu lalu ikut dalam kompetisi pemilihan ketua Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Pesawaran dan Ustadz Kangen pun terpilih dengan dukungan telak.

Peristiwa penganiyayaan ini pun ia laporkan ke Polres Pesawaran yang saat ini masih dalam proses penanganan pihak Polres.

Akibat penganiayaan tersebut, Endang harus dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Pesawaran untuk mendapatkan perawatan, lantaran luka lebam di rahang kanannya dan mengalami pendarahan dibagian dalam hidung nya pada saat setelah kejadian.
Ustadz Endang pun mengaku trauma akibat kejadian ini.
“Sebetulnya saya juga belum tahu secara pasti permasalahannya apa. Kata dia (HSN ) saya sudah memfitnah dia,” kata Ustadz Endang saat ditemui di rumah sakit, Dia menuturkan, pada Jumat malam itu dia mendapat undangan tausiyah acara pernikahan di kediaman Arman, warga Desa Ketapang.
Namun sesampainya di sana, sebelum dimulainya acara, tiba-tiba ada pesan singkat (SMS) dari pelaku PRD, yang merupakan pengurus salah satu Ormas yang berisi pesan singkat” ‘Tad ini saya pak Pardiman ada di belakang kamu’.ucap Endang sambil menunjukan isi pesan singkat yang ada di ponsel nya.
“Usai membaca SMS itu saya langsung menoleh ke belakang, kemudian saya menemui dan menyalaminya. Biasalah kalau kita ketemu. Lalu katanya ‘ya sudah lanjut saja acara pengajiannya, setelah acara ini nanti kita selesaikan’,” ungkap Ustadz Endang menirukan ucapan pelaku PRD.
Kemudian sekira pukul 22.00 WIB setelah acara selesai, Ustadz Endang kemudian menemui PRD untuk mengajak makan, namun dia menolak.

“Kata dia ‘terus saja, saya tunggu di luar’. Kemudian saya makan. Selesai makan semula saya hendak langsung pulang, karena saya fikir dia sudah pulang. Kemudian saya ke parkiran mobil. Tiba-tiba dia muncul dan memanggil saya, ‘sini tadz saya ada perlu’,” ucap salah satu pelaku.
Lalu dia dibawa ke rumah salah satu warga yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat acara.

“Ketika saya masuk ruang tamu, saya lihat orang ramai di sana. Tiba-tiba Pelaku HSN buka baju dan mengancam saya sambil berdiri mendorong kepala saya dengan tangannya. Kata dia ‘ sambil mendorong kepala saya berulang-ulang,” sambung dia.

Tak berhenti sampai di situ. HSN bahkan menantang Ustadz Endang.

“Kamu mau apa, mau ngadu apa buka kitab atau berantem, ayo. Saya jawab bahwa saya bukan tukang berkelahi. Lalu saya minta maaf, mungkin saya punya salah. Sebagai manusia tentu ada kekhilafan. Tapi dia menolak, ‘tidak bisa, sambil mendorong kepala saya dengan tangannya,” urai Ustadz Endang.
Saat itu posisinya berada di sudut ruang tamu rumah, ketika HSN mendorong kepala Ustadz Endang dengan lengannya.
“Tiba-tiba Pelaku kedua yaitu PRD ikut memukul saya di bagian dagu. Kejadiannya sangat cepat, tiba tiba ada tangan meluncur menghantam dagu saya dua kali, hingga hidung saya mengeluarkan darah,” kata Ustadz Endang.

Setelah kedua orang tersebut menganiayanya, Ustdaz Endang dengan posisi duduk dan dibawah ancaman para pelaku,sambil direkam dengan Hand Phon diminta mundur dari jabatannya selaku ketua MUI Pesawaran.

“Saya kenal dengan kedua orang itu,ungkap Ustadz Endang.
Dia pun belum tahu secara pasti penyebab keduanya menganiayanya.

HSN mengancam sambil merekam agar ustadz Kangen ini mengatakan bahwa malam ini juga Ia harus mengundurkan diri dari ketua MUI.

“HSN menganggap kalau saya gila jabatan Ketua MUI. Tidak ingin dipukul, saya pun bergegas pergi dari rumah tersebut. Dari pada saya babak belur, itu pun yang bersangkutan terus saja mengajak saya berkelahi, tapi tidak saya layani,” ujar Ustadz Endang.

Yang sangat disayangkan, banyak warga yang melihat kejadian itu, namun tak satu pun ada yang melerai.

“Kejadian ini sudah saya laporkan ke Polres Pesawaran. Harapan saya untuk pelaku segera ditangkap dan diberikan hukuman seadil-adilnya, karena ini sudah masuk ranah penganiayaan,” ujar Ustadz Endang.(Red)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=36438

Posted by on Sep 10 2018. Filed under Health, News, Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented