|

Lobi-lobi koalisi partai oposisi

Jakarta – Kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, dipenuhi banyak orang. Kamis (9/8) malam, Para petinggi partai PKS, PAN dan Gerindra berkumpul. Pembahasan masih alot. Memastikan Sandiaga Uno tetap melaju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo.

Karpet merah di depan rumah besar itu sudah digelar. Sebanyak 17 bendera merah putih juga dikibarkan sejak selepas magrib. Dari dalam rumah Kertanegara, diskusi antara Prabowo dengan para petinggi partai cukup alot. Terutama mengenai Partai Demokrat. Mereka masih menunggu kepastian dari partai besutan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Partai Demokrat belum memutuskan koalisi. Padahal beberapa hari sebelumnya, Prabowo dan SBY makin intensif berkomunikasi. Salah satu alasannya karena putra SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) batal digandeng Prabowo. Sikap ini menjadi pertimbangan Demokrat belum memberikan keputusan koalisi pada malam menegangkan tersebut.

Keputusan deklarasi tanggal 9 Agustus di luar rencana awal. Prabowo sempat menargetkan pada tanggal 8 Agustus. Angka cantik, begitu kader Gerindra Arief Puyuono. Angka 8 bagi Prabowo sudah melekat dalam dirinya. Ketika aktif di TNI, Prabowo mendapat kode 08. Itu merupakan sandi radio Prabowo saat masih bertugas. Disematkan kepada Prabowo ketika menjabat Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus. Dari situ ada juga harapan agar Prabowo menjadi presiden ke-8 Indonesia.

Ratusan pewarta sudah menunggu dari siang di depan rumah Prabowo. Menunggu pengumuman resmi pasangan Prabowo untuk menghadapi Jokowi Widodo (Jokowi). Bertarung di Pilpres 2019. Jokowi sudah terlebih dahulu mendeklarasikan. Dia memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin.

Hingga ketika pukul 10 malam, mobil Prabowo keluar dari kediaman. Kepergian Prabowo mendadak. Ternyata dia menyambangi kediaman SBY di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Di sana Prabowo coba melobi. Sedangkan Demokrat menyerahkan secarik kertas. Berisi perjanjian politik.

Sumber kami menyebut isi komitmen politik itu terkait posisi Demokrat. Termasuk di dalamnya ada pembagian kursi menteri. Prabowo pun diminta untuk mendukung calon dari Demokrat pada 2024 nanti. Prabowo cuma 10 menit menyambangi rumah SBY. Kabarnya dia setuju dengan permintaan itu.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mengaku tidak ada deal politik dari partainya dengan Prabowo. Terutama terkait dukungan dari Prabowo dan Gerindra untuk Pilpres 2024. Meski begitu, dia tak menampik soal jatah menteri. Syarief menegaskan urusan itu diserahkan ke tangan Prabowo. “Tidak ada deal 2024, soal menteri terserah Prabowo,” kata Syarief kepada merdeka.com.

Prabowo kembali ke Kertanegara. Di dalam mereka langsung bersiap. Sekaligus menguatkan koalisi. Mereka sudah bulat. Akhirnya mendukung Prabowo-Sandiaga untuk maju sebagai pasangan capres dan cawapres. Pengumuman itu disampaikan sekitar pukul 11 malam.

Semua petinggi partai keluar. Berbaris podium sederhana depan rumah Prabowo. Berdiri di depan bendera berkibar. Prabowo-Sandiaga berada di barisan keluar. Ketika keluar pintu menuju gerbang, dua orang ini berjalan diiringi salawat. Demi menguatkan hati dan perasaannya.

Di situ Prabowo menyampaikan Sandiaga resmi menjadi pendampingnya di Pilpres 2019. Dua partai setuju, PKS dan PAN. Mereka tetap di koalisi. Sedangkan Sandiaga sengaja diminta Prabowo untuk keluar dari Partai Gerindra sebagai wakil ketua dewan pembina.

Demokrat mengaku sempat kecewa. Bahkan sebelum nama Sandiaga diumumkan, Wakil Sekjen Demokrat Andi Arief berucap lewat akun resmi Twitter miliknya. Andi menuding ada mahar di balik setujunya Prabowo atas nama Sandiaga. Tak main-main. Andi menyebut duit Rp 1 triliun digelontorkan untuk PAN dan PKS.

Seolah mendukung, Syarief Hasan mengaku bahwa Prabowo tidak belum menunjukkan sikap jujuran dan transparan saat menentukan pilihan. Dia mengaku bahwa nama Sandiaga belum pernah adanya pembahasan antara Demokrat dengan Gerindra. “Pertama enggak pernah dibicarakan. Kedua ada sesuatu,” tuturnya. Sesuatu diucapkan Syarief diduga terkait mahar.

Andi juga mengaku tahu informasi sial mahar politik berasal dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Sumber kami bahkan menyebut bahwa Fadli dikabarlan menjadi salah seorang di Gerindra paling getol mendorong nama AHY jadi pendamping Prabowo. Ucapan itu segera dibantah. Fadli merasa itu hanya tuduhan tak mendasar.

“Tidak ada itu. Salah itu. Saya tidak pernah ketemu Andi Arief, dan itu tak ada. Tidak benar,” ujar Fadli.

Kolega satu partai Fadli, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo pun menepis kabar bahwa Fadli Zon memberikan informasi kepada Andi Arief terkait dugaan mahar disiapkan Sandiaga. Bahkan partainya telah meminta keterangan Fadli untuk masalah satu ini. “Tidak perlu ditanggapi secara serius. Dari kami, karena saya sudah cek ke Pak Fadli yang katanya ketemu. Bahkan kata Pak Fadli, beliau tidak ada di situ,” ujar Edhy.

Sementara itu, Sandiaga bahkan sampai ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan jumlah harta kekayaannya. Kesempatan ini juga dipakai untuk berkonsultasi dengan lembaga tersebut. Dalam persoalan ini, sudah ada pihak melaporkan Sandiaga ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mereka bernama Federasi Indonesia Bersatu.

Sandiaga tidak gentar. Dia menyerahkan semua masalah ini kepada tim hukum. Dia juga meminta tuduhan atas mahar itu untuk dibuktikan. Sebab selama ini belum ada bukti otentik untuk tuduhan tersebut.

“Saya serahkan kalau ke ranah hukum. Tapi sudah saya bantah dan silakan dilakukan pendalaman,” tegas Sandi. [Merdeka]

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=35889

Posted by on Agu 16 2018. Filed under News, Olahraga, Pendidikan, Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented