|

Istri Ungkap Keberadaan Setnov Saat Diburu Penyidik KPK

Jakarta – Istri mantan Ketua DPR Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor mengungkapkan suaminya meninggalkan rumah menuju kawasan Sentul, Bogor sebelum dicari oleh tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu 15 November 2017 malam.‎

Fakta tersebut diungkap Deisti saat dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (16/4/2018).

Deisti bersaksi dalam persidangan terdakwa dokter spesialis ‎Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH) ‎Bimanesh Sutarjo.

‎Deisti menuturkan, saat ini Fredrich Yunadi adalah kuasa hukum suaminya. Fredrich menjadi kuasa hukum lebih kurang satu bulan sebelum 15 November 2017.

Dia mengungkapkan, sebelum 15 November ada surat panggilan pemeriksaan dari KPK untuk pemeriksaan Setnov sebagai tersangka.

Deisti membeberkan, pada Rabu, 15 November 2017 malam sekitar pukul 21.30 WIB Setnov pulang ke rumah di di Jalan Wijaya XIII, Jakarta Selatan. Seingat Diesti, suaminya pulang sebelum tim KPK mendatangi rumahnya.

Dia yang saat itu berada di lantai atas kemudian diberitahukan bahwa ada sedikitnya 15 orang dari KPK yang datang.

Deisti sempat bertanya ada siapa di bawah dan diinformasikan bahwa ada Fredrich selaku pengacara Setnov

“Jadi saya tetap di atas saja. Pas orang KPK datang, Bapak (Setya Novanto-red) sudah enggak ada, sudah keluar. Saya enggak tahu ke mana. Pas bapak sudah masuk rumah sakit tanggal 16 (16 November 2017) setelah kecelakaan, saya tanya ke Bapak, malam sebelumnya (Rabu 15 November) ke mana. Katanya ke Sentul menginap di hotel,” ujar Deisti di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

Deisti melanjutkan kronologi peristiwa Rabu, 15 November 2017. Saat tim KPK datang, akhirnya Deisti disuruh turun ke lantai bawah oleh Fredrich.

Fredrich meminta Deisti menandatangani surat kuasa lagi. Surat kuasa tersebut untuk menunjuk Fredrich sebagai kuasa hukum terdakwa, lebih khusus terkait dengan penggeledahan yang dilakukan KPK pada Rabu malam itu.

Deisti juga mengetahui di depan pagar rumahnya sudah ada para jurnalis yang meliput. “Nah di situ baru dikasih tahu mereka (tim KPK) mencari Pak Novanto. Di depan penyidik, saya berusaha telepon Bapak, tapi enggak nyambung, teleponnya mati. Penyidik menunggu sampai pukul 11.30 WIB, tetap enggak nyambung. Malah saya telepon sampai pukul 01.30 WIB, tetap nggak nyahut,” tandasnya.

Pada Kamis, 16 November 2017 pagi Deisti tetap menghubungi nomor telepon seluler Setnov. Tapi tetap tidak terhubung. Rupanya antara pukul 14.00 WIB hingga 14.30 WIB, Setnov berusaha menelepon Deisti.

“Beliau (Setnov-red) mengatakan akan menyerahkan diri ke KPK malam. Saya akan ke KPK dengan DPD 1 (Golkar), kamu sama anak-anak tolong kuat, tolong tenang, kuatin anak-anak. Jadi kamu dan anak-anak tolong tenang, tabah,” tutur Deisti menirukan ucapan suaminya.

Dia melanjutkan, saat panggilan masuk dari Setnov datang dirinya sedang bersama keluarga. Selepas ashar, ada pengajian rutin disertai tausiah yang digelar di rumahnya.

Untuk mengetahui pasti posisi dan kondisi suaminya, Deisti hanya bisa menunggu dan menyaksikan berita di layar kaca. Tidak disangka, Desti mendapat panggilan telepon masuk dari Fredrich pada Kamis malam.

“Kira-kira jam 19.30 malam, Pak Fredrich mengabarkan Bapak (Setnov-red) kecelakaan. Saya tanya ke Pak Fredrich bagaimana kejadiannya, dia bilang enggak tahu. Jadi saya disuruh ke RS Permata Hijau saja,” papar Deisti.

Saat turun dari mobil, Deisti panik karena sudah banyak awak media. Deisti memilih menaiki tangga untuk menuju lantai 3 di ruang perawatan Setnov di RSMPH. Deisti melihat Setnov sedang terbaring, diinfus, dan sudah diperban.

Deisti sempat mengerak-gerakan sedikit tubuh Setnov, tapi Setnov tidak bangun. Deisti sempat bertemu Fredrich di RSMPH. “Saya lihat di perbannya, di dalamnya sih benjol karena ada jendul, tapi saya enggak buka. Kalau pemesanan kamar, saya tahu pas malam, pas setelah masuk. Tahu dari Pak Fredrich bahwa ada tiga kamar yang dipakai, Pak Fredrich bilang kecil Bu,” ungkapnya.

Anggota Majelis Hakim Sigit Herman Binaji mengonfirmasi ke Desti tentang nama hotel di Sentul yang menjadi menginap Setnov pada Rabu 15 November 2017 malam. Deisti mengaku tidak tahu nama hotel tempat suaminya menginap.

Deisti mengakui baru berjumpa dengan dokter Bimanesh Sutarjo pada Jumat 17 November 2017 pagi. Itu pun tidak lama.

Bimanesh menyampaikan Setnov mengalami kecelakaan pada Kamis malam. Oleh karena itu perlu diperiksa lebih lanjut.

Karena alat RSMPH tidak lengkap, kata dia, Setnov harus dipindah ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

“Saya setuju pindah, asal yang terbaik saja. Kalau memang enggak lengkap alat di RS-nya (RSMPH). Setelah shalat Jumat dipindahkan ke RSCM. Saya ikut di ambulans, ada penyidik KPK, ada satu orang dari Golkar sama suster,” ucapnya.(Sindo)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=33967

Posted by on Apr 16 2018. Filed under News, Pendidikan, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented