|

Dua Bos Perusahaan Dipidana, Jampidsus: Akan Tentukan Sikap Hukum

 
Jakarta – Kejaksaan Agung akan mempelajari putusan Pengadilan Tipikor Jakarta dan menentukan langkah hukum berikutnya, dalam hal ini menerbitkan Sprindik baru.

“Tentu, putusan itu akan kita pelajari, cermati dan lalu putuskan sikap, ” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman, di Jakarta.

Sebelumnya, Kamis (12/4) Majelis Hakim Pengadilan Tipikor diketuai Mas’ud telah menyatakan bersalah dua terdakwa kasus pembobolan Bank Mandiri Surakarta. Atas nama Erika W. Liong dan Mulyadi Supardi (Dirut dan Manajer PT Central Steel Indonesia-CSI).

Adi yang juga Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) ini belum dapat menjanjikan segera menerbitkan Sprindik (Surat Perintah Penyidikan) baru.

“Kan perkaranya baru diputus. Kita harus pelajari. Jika ada fakta hukum baru, kita akan sikapi, ” jelasnya.

Menurut Adi, dalam hukum tidak ada istilah kemungkinan. Semua harus didasarkan fakta hukum.

“Kita bekerja profesional,” tegasnya.

UANG PENGGANTI

Dalam perkara korupsi yang merugikan negara sebesar Rp201 miliar, Erika divonis empat tahun, denda Rp 200 juta subsider tiga bulan penjara. Mulyadi lima tahun enam bulan, denda Rp200 juta subsider tiga bulan penjara.

Kedua terdakwa tidak dikenakan sanksi membayar uang pengganti. Sanksi itu diwajibkan kepada korporasi, dalam hal ini PT CSI.

Dengan ketentuan sebulan setelah perkara berkekuatan hukum tetap, tidak mampu melunasi uang pengganti,, maka seluruh aset PT CSI dilelang guna membayar uang pengganti.

Jaksa Penuntut Umum Andu Indra menuntut Erika selama enam tahun. Mulyadi selama tujuh tahun enam bulan. Masing-masing didenda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan penjara. Serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 201.

Kedua terdakwa, melalui PT CSI, di bidang peleburan besi bekas menjadi besi beton dan besi bulir untuk bahan bangunan, pada 2005 mendapatkan fasilitas kredit dari Bank Mandiri (Persero), Tbk selama tahun 2011-2014.

Ternyata, dalam permohonan kredit sebesar Rp 472 milyar lebih dilakukan dengan data dan laporan keuangan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Seperti dikutip pelapor kasus ini ke Kejari Surakarta, yakni Boyamin Saiman (Koordinattor MAKI) dari surat dakwaan No. Reg. Perkara: PDS/29/Pid.Sus/TPK/11/2017 oleh Kejari Jakarta Pusat, uang kredit dialirkan kepada pemegang saham. Mulai, Weng Jian Ping Rp15,5 miliar, Tan Oe Ciaw Rp15 miliar dan Rp16,5 miliar, Goeij Siauw Hung Rp25 miliar dan Nadia Kristanto Rp10 miliar.(Poskota)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=33952

Posted by on Apr 16 2018. Filed under Tak Berkategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented