|

Komunitas SANJA KADHANG siap jadi tuan rumah Budaya di Borobudur.

WhatsApp Image 2018-04-05 at 16.24.18DETIKNUSANTARA.COM, Jawa Tengah_ Perhelatan Sastra dan Budaya yg akan digelar di Candi Borobudur tinggal beberapa hari lagi, persiapanpun sudah semakin terkondisi.

“Alhamdulilah, berkat kerja sama yg baik dengan banyak pihak acara yg akan kita gelar tgl 18 April 2018 mendatang sudah siap 90â„… dan tinggal menunggu hari H nya” demikian diungkapkan Noeryanto sang pemilik Komunitas teater dan puisi SANJA KADHANG yg akan terlibat dlm acara tersebut ketika ditemui saat menghadiri siaran “Dialog Kebangsaan” dengan tema “Metabahasa Boorobudur untuk harmoni semesta”, dalam rangka menyambut Hari Warisan Dunia sekaligus Rilis Album BOROBUDUR  karya Eko Pramono atau biasa dipanggil Petruk Gandrung yg dinyanyikan bersama Triadiwijoyo dan Krisnina di RRI Kotabaru, Yogyakarta kamis 5 April 2018.

Lebih lanjut dikatakan bahwa acara di Borobudur nanti bukan hanya merupakan satu pertunjukan seni saja tetapi lebih merupakan ritual Budaya sebagai bentuk terima kasih kami kepada para leluhur dan semesta yg sudah banyak memberi kehidupan kepada kita.

Ditempat terpisah pelaku seni yg juga akan mengisi acara tersebut Uci Aryanti berujar ” Saya sangat bersyukur pada semesta yg telah mempertemukan saya dengan SANJA KADHANG Omah mBudur milik mas Nur inilah saya menemukan Kekadangan sehati, Paseduluran dan persahabatan sejati, beliau memang luar biasa, orang yg sudah punya nama besar tapi masih peduli dan sangat mengapresiasi karya seni dan budaya sekecil apapun itu” demikian ketika kami menanyakan tentang figur seorang Noeryanto atau mas Nur begitu dia biasa disapa.

Diantara para seniman yg tergabung di SANJA KADHANG Omah mBudur ada juga seorang Dalang senior yg sangat mumpuni, ketika kami temui di Pendopo Omah mBudur Suprodjo Hadi atau pak Prodjo mengatakan “Sebagai bagian dari keluarga SANJA KADHANG Omah mBudur tentunya saya sangat bangga dengan acara Budaya yg selalu ditampilkan baik melalui teater, puisi maupun seni budaya yg lainnya.

Sebagai orang Jawa saya berkeinginan didalam pementasan teatrikal dengan puisi bahasa Jawa atau Geguritan, mengingat Suluknya wayang tapi puisinya pakai bahasa Indonesia sepertinya tidak serasi.

Selain itu saya sangat mengapresiasi anak2 muda yg juga menjadi bagian dari SANJA KADHANG, pemikiran boleh modern tapi tata krama kita harus tetap terjaga dan selalu menunjukkan budaya Jawa” demikian pungkasnya.(Sri Rahayu).

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=33731

Posted by on Apr 5 2018. Filed under Tak Berkategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented