|

Kepulangan Novel Baswedan dan utang penuntasan kasus penyiraman

Jakarta – Lebih kurang 10 bulan lamanya penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berada di Singapura. Bukan sedang menyidik kasus. Dia berjuang untuk kesembuhan dari balik bangsal perawatan rumah sakit.

Pada pertengahan April 2017 lalu, dua matanya nyaris dibuat tak bisa melihat oleh mereka yang tak bertanggung jawab. Usai menunaikan salat Subuh, Novel disiram air keras. Indera penglihatannya menjadi sasaran.

Selama itu pula, penyiram Novel Baswedan belum juga terungkap. Polisi berjanji akan mengusut tuntas. Dua sketsa wajah terduga pelaku sempat ditampilkan ke publik. Apa daya, titik terang belum juga terlihat.

Meski demikian, Novel tetap semangat memulihkan kesehatan. Beberapa kali operasi dia jalankan. Hingga akhirnya Novel dinyatakan bisa kembali berkumpul dengan keluarga tercinta walaupun masih dibutuhkan beberapa kali lagi tindakan.

Pada Kamis (22/22), berkaos putih dibalut jaket hitam, Novel tiba di Bandara Soekarno Hatta. Pimpinan KPK dan keluarga menyambut kepulangannya. Tak terkecuali rekan kerja yang sudah menanti di Gedung KPK.

Novel sempat memberikan keterangan pers. Dengan tegas dia menyatakan peristiwa yang dialami hingga membuat satu matanya terganggu tak menyurutkan niatnya melawan korupsi.

“Bagi saya yang terjadi pada diri saya, saya tidak ingin menjadikannya sebagai kelemahan. Tapi semangat buat diri saya,” tegas Novel di Gedung KPK.

“Saya tak ingin menurunkan produktivitas, jika ini terjadi itu berarti kemenangan pada pelaku penyerangan,” sambungnya.

Banyak pihak berharap kepulangan Novel semakin mempermudah penuntasan kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Polri diharapkan bisa bekerja lebih keras untuk menunjukkan keseriusan menuntaskan kasus Novel. Dia menilai justru Kapolri sudah dikerjain anak buahnya dalam penanganan kasus Novel.

“Karena belum ada progresnya, kita minta betul pada Kapolri agar martabat kepolisian betul-betul bisa dipercaya publik dan diharapkan segera dituntaskan,” kata Saor Siagian, pengacara Novel.

Sebagai kuasa hukum, dia mengaku sudah mengkomunikasikan kepulangan Novel pad Kapolri. Dia menagih utang Kapolri menuntaskan kasus kliennya.

“Saya tadinya bilang ke Kapolri, saya pikir dia dikerjain anak buahnya. Oleh karena itu kita minta ke Tito. Ini utang saudara, 10 bulan (kasus Novel) harusnya sudah dituntaskan,” jelas Saor.

Tak hanya pada kepolisian, diharapkan Presiden JOko Widodo juga mendorong agar terus mendorong kasus ini dituntaskan. Termasuk opsi membentuk Tim gabungan pencari fakta (TGPF) jika memang tak ada progres di kepolisian.

“Kita harap ada kepastiakn waktu dari Presiden atau batas waktu realistis agar langkah lain bisa dipertimbangkan. Bukan ambil alih kerja kepolisian tapi mengefektifkan kerja penyidik di kepolisian,” tambah Direktur Amnesty Internasional, Usman Hamid.

Kini Novel hanya bisa berharap pada kepolisian menuntaskan kasusnya. Di tengah menantian itu, Novel berjanji tetap berjihad melawan korupsi. [Merdeka]

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=32643

Posted by on Feb 23 2018. Filed under News, Opini, Pendidikan, Politik, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented