|

Yorrys Raweyai Dijebak Oknum Golkar

Jakarta – Kritik terhadap Setya Novanto terkait revitalisasi kepengurusan DPP Golkar yang berujung pencopotan Yorrys Raweyai terus bergulir. Ketua Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia menilai Yorrys Raweyai dijebak.

Doli mengatakan, revitalisasi kepengurusan yang dilakukan Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan Sekjen Idrus Marham, tidak memiliki dasar dan alasan yang kuat. Keputusan itu menurutnya hanya didasari oleh rasa suka tidak suka, sangat personal dan tendensius yang mengarah kepada pembunuhan daya kritis dan semangat partai.

“Selain karena kritis dan vokal, Yorrys juga menjadi korban beberapa orang yang pura-pura serius untuk melakukan perubahan. Pembentukan tim kajian dan rekomendasinya telah menjebak Yorrys dari main-mainnya pengurus yang lain, yang seakan pro-perubahan, tetapi pragmatis, gampang berubah seiring arah angin,” ucap Doli, Kamis (12/10).

Hal tersebut menurut dia dengan jelas terlihat, begitu gugatan praperadilan Setya Novanto diterima Hakim Cepi Iskandar, mereka langsung loncat berebut berada kembali di belakang ketum partai yang pernah menyandang status tersangka.

“Sementara orang-orang yang seharusnya diganti, seperti salah satunya yang sudah terpidana kasus korupsi, masih tetap saja dipertahankan. Jadi revitalisasi itu berstandar ganda, dan tak ada visi,” tegas mantan ketum KNPI ini.

Selain itu, bermigrasinya para purnawirawan jenderal juga menguatkan bahwa Golkar di bawah pimpinan Setya Novanto-Idrus Marham tak taat asas, serta mengabaikan bahkan mengingkari sistem kaderisasi partai.

“Saya tidak pernah kenal mereka sebelumnya dalam konteks Golkar, tiba-tiba langsung berada di pucuk pimpinan partai. Masuknya mereka itu memunculkan spekulasi seperti memenuhi pesanan pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Jadi dalam konteks penguatan Golkar, sesungguhnya yang dilakukan Setya Novanto bukanlah re-vitalisasi, tapi justru de-vitalisasi,” tuturnya.

Yang membuat tambah aneh, kata mantan ketua Bapilu DPP Golkar ini, saat penyampaian kepengurusan baru itu dilakukan dengan pengawalan pasukan Brimob yang banyak. Tidak kurang dari 500 personel lengkap dengan senjata laras panjang, rompi pengaman, ditambah beberapa mobil barakuda, ikut mengamankan kehadiran Setya Novanto pertama kali sejak terserang penyakit parah.

“Kapolda Metro Jaya pun ikut turun langsung di lapangan. Kami patut mempertanyakan, kenapa pasukan antiteror, alat negara dan dibiayai negara, seperti Brimob bisa dengan mudah diperintah untuk mengamankan seorang saksi kasus korupsi e-KTP. Apa institusi kepolisian saat ini bisa mendapat perintah dengan mudah oleh sebuah partai politik?” ujar Doli. (Jpnn)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=28760

Posted by on Okt 12 2017. Filed under Ekonomi, News, Pendidikan, Politik, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented