|

Bolak-balik ke kejaksaan, polisi belum bisa ungkap kasus Mirna

Jakarta – Polda Metro Jaya hingga kini seakan masih enggan mengungkap misteri kematian Wayan Mirna Salihin (27). Padahal, polisi telah berulang kali menggali keterangan dari sejumlah saksi, menggelar rekonstruksi hingga berkomunikasi dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Bahkan, Polda Metro sudah dua kali menyambangi Kejati DKI dan menyerahkan SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan). Kedatangan penyidik ke Kejati DKI yang pertama kali pada Selasa (26/1).

Saat itu, Humas Kejati Waluyo Yahya pun tak berkomentar banyak. Waluyo hanya mengungkapkan jika kedatangan penyidik hanya untuk koordinasi dan bukan menyerahkan berkas perkara kasus tersebut.

“Koordinasinya tertutup, sifatnya konsultasi, ada komunikasi,” ujar Waluyo.

Menurutnya, koordinasi diperlukan agar berkas kasus ini tidak bolak balik dikembalikan. Dengan demikian bisa langsung naik ke persidangan.

“Intinya sudah sesuai SOP kita, penyidik baru sudah menyerahkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kemarin sore. itu penyidik koordinasi dengan jaksa peneliti. Salah satunya supaya bukti mentah di pengadilan,” tambahnya.

Disinggung perihal tersangka dari kasus ini, Yahya tak mau banyak bicara. “Tanya penyidik,” jelas dia.

Kemudian, kedatangan penyidik ke Kejati DKI untuk kali keduanya pada Jumat (29/1) kemarin. Sayangnya, setelah sekitar 4 jam bertemu dengan pihak Kejati DKI, Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Polri Kombes Khrisna Murti tetap bungkam kepada awak media.

Krishna dan rombongan yang tiba sekitar pukul 14.10 WIB baru keluar dari gedung Kejati DKI sekitar pukul 18.00 WIB, namun tidak seperti biasanya. Petang ini Krishna irit bicara kepada wartawan. Bahkan dia terkesan menghindari pertanyaan wartawan dan langsung masuk mobil.

“Kita cuma konsultasi,” ujar Krishna yang bergegas jalan menuju mobilnya, Jumat (29/1).

Senada dengan Krishna, Kepala Humas Kejaksaan Tinggi DKI, Waluyo pun mengatakan hal yang sama. Kedatangan penyidik Polda itu untuk berkonsultasi kasus pembunuhan Wayan Mirna yang hingga kini belum ada titik terang.

“Dalam koordinasi tersebut diisi dengan forum konsultasi antara penyidik dan jaksa kejati. Di dalam forum itu diadakan penyempurnaan data dan fakta,” kata Waluyo.

Mengenai tersangka dalam kasus ini, Waluyo juga enggan untuk berkomentar. “Kalau masalah perkara kami tidak bisa membicarakannya di sini. Nanti saja di persidangan,” lanjut dia.

Waluyo menjelaskan, inti dari pertemuan tersebut merupakan konsultasi untuk penyempurnaan terhadap data-data dan fakta-fakta. Saat ini pihaknya masih menunggu berkas-berkas penyelidikan dari Polri untuk selanjutnya diolah secara profesional.

“Kita lihat nanti tunggu berkasnya, setelah itu baru teliti dengan profesional,” pungkasnya.

Alhasil, dengan bungkamnya polisi dan Kejati DKI terkait kasus Mirna semakin membuat publik bertanya-tanya siapa sebenarnya yang tega menaburkan racun sianida ke dalam es kopi Vietnam yang diminum perempuan lulusan Universitas Billy Blue dan Universitas Swinburne di Melbourne ini.(Merdeka)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=12548

Posted by on Jan 30 2016. Filed under News, Pendidikan, Tekno. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented