|

Polres Tuba Tembak Mati Gembong Perampok

Tulang Bawang – Insiden penembakan anggota Polri membuat korps Bhayangkara Provinsi ini makin keras menabuh genderang perang terhadap para pelaku kriminal, khususnya pelaku pencurian dengan kekerasan. Buktinya, Polres Tulangbawang (Tuba) kemarin berhasil menangkap 4 dari 6 tersangka yang diduga sebagai komplotan perampok di wilayah hukum setempat.

Kapolres Tuba AKBP Agus Wibowo didampingi Wakapolres Musa Tampubolon mengatakan, pihaknya terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menembak mati salah seorang tersangka karena melakukan perlawanan.
Sebab ketika hendak ditangkap, komplotan itu berupaya memberi perlawanan dengan menembak aparat secara membabi buta. Petugas yang terdesak akhirnya membalas tembakan sehingga satu dari empat orang itu tewas di lokasi penangkapan akibat diterjang timah panas di bagian dada.

Seorang tersangka lain juga mengalami luka tembak di kaki kiri. Melihat dua rekannya tertembak, dua tersangka lain langsung menyerahkan diri. Hingga berita ini diturunkan, aparat masih mengejar dua tersangka lain yang berhasil melarikan diri.

Tersangka tewas adalah Suparman (46), warga Wayserdang, Kabupaten Mesuji. Sedangkan tersangka yang berhasil dibekuk masing-masing Sigit (31), warga Wayserdang; Jito (34), warga Pakuonratu, Waykanan; dan Ngadiono (36), warga Kalianda, Lampung Selatan.

Agus mengatakan, penangkapan bermula ketika kawanan ini pada Jumat (28/8) sekitar pukul 02.00 WIB beraksi di rumah Turisno, warga Ringinsari, Kecamatan Banjarmargo, Tuba.

Mendapat informasi tersebut, pihaknya langsung memerintahkan Kasatreskrim AKP Allaidin dan 2 anggota melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). ’’Setelah diselidiki, kami mendapat informasi bahwa pelakunya kelompok Suparman,” ungkapnya.

Informasi itu langsung ditindaklanjuti dengan mendatangi rumah tersangka Suparman. Namun saat tiba sekitar pukul 07.00, seketika itu juga tim Opsnal Tuba yang dipimpin Allaidin disambut dengan tembakan membabi buta dari dalam rumah. Baku tembak akhirnya tak terelakkan.

’’Kami datang ke sana untuk menangkap dia. Mengetahui akan ditangkap, mereka langsung menembaki anggota kami. Beruntung, anggota kami tidak ada yang terluka,” papar Agus Wibowo kemarin.

Dari lokasi, pihaknya langsung melarikan para tersangka ke sejumlah klinik di Banjaragung, Unit II, Tuba. Namun nahas, satu tersangka nyawanya tidak dapat terselamatkan lantaran terlalu banyak mengeluarkan darah.

Dari penangkapan itu, aparat menyita berbagai barang bukti (BB). Di antaranya 5 pucuk senjata api (senpi), 19 butir amunisi, dan 8 selongsong peluru. Selain itu, sejumlah barang yang diduga sebagai hasil rampokan berupa kalung emas, enam gelang emas. 13 unit ponsel, sepuluh boks rokok, sebuah buku tabungan atas nama Sigit, dan uang tunai Rp4.331.000.

Kemudian tujuh unit motor berbagai jenis, dua lembar STNK dan BPKB sepeda motor, satu buku nikah, tiga kunci letter T, satu bundel lakban, satu gulung tali plastik, dua sebo (penutup wajah), dua sarung tangan, tujuh linggis, tiga badik (senjata tajam jenis pisau), sebuah celurit, dan sebuah ganco juga turut diamankan.

Dijelaskan Agus, dari hasil pemeriksaan sementara kemarin, komplotan ini telah beraksi setidaknya di 15 TKP yang tersebar di Kabupaten Tuba dan Tuba Barat. Masing-masing 7 TKP di Kecamatan Banjaragung, Tuba; Kecamatan Lambukibang, Tuba Barat (4 TKP); Kecamatan Gunungterang (2 TKP); Menggala (1 TKP); dan Gunungagung, Kabupaten Tuba Barat (1 TKP).

’’Ini juga masih ada dua tersangka yang masuk dalam DPO kita. Inisialnya A dan H. Kalau tidak menyerahkan diri, tentu tindakan tegas akan kami ambil. Kami minta pihak keluarga bekerja sama membantu aparat sehingga mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tandas dia.

Sementara itu, aparat Polsek Natar juga meringkus dua DPO curas, yaitu AA (17) alias Enyek dan Andi Setiawan (25), pada Kamis (27/8) sekitar pukul 22.00 WIB. Kedua warga Rulunghelok, Natar, ini diduga kerap beraksi di jalan lintas Sumatera (jalinsum) kecamatan setempat.

Dari tangan kedua tersangka, aparat menyita satu unit ponsel merek Cross milik korban dan senjata api (senpi) jenis locok.

Kapolsek Natar Kompol Yustam Dwi Heno melalui Kanitreskrim Ipda Setio Budi Howo mengatakan, penangkapan kedua tersangka merupakan hasil pengembangan dari tersangka Herdiansyah (23), yang lebih dahulu ditangkap polisi pada April 2015 lalu. Herdiansyah kini tengah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan.

Dalam penangkapan yang dipimpin langsung Ipda Setio Budi Howo itu, kedua tersangka tidak melakukan perlawanan. ’’Keduanya ditangkap ketika tengah nongkrong/duduk di areal bendungan di Desa Rulunghelok. Empat bulan lamanya mereka buron, akhirnya tertangkap,” terang dia kemarin.

Berdasar catatan kepolisian, kata Budi, komplotan ini kerap melakukan aksi kejahatan di jalinsum dengan sasaran mengambil sepeda motor dan memalak (memeras) mobil truk bermuatan yang melintas.

Korban terakhir adalah Marjuki (25). Warga Jl. Ikan Kacangan, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumiwaras, Bandarlampung, ini mengaku menjadi aksi korban pemerasan yang diduga dilakukan komplotan itu dengan menodongkan senpi.

Dalam menjalankan aksinya, modus yang digunakan tersangka dengan cara membuntuti korban dari belakang. Ketika sampai di jalan yang sepi, mereka memepet, lalu memberhentikan korban dan langsung menodongkan senpi.

’’Komplotan ini memiliki peran masing-masing. Ada yang sebagai joki (membawa motor) dan ada yang mengeksekusi,” jelasnya.

Di hadapan aparat, kedua tersangka mengaku sudah empat kali melakukan aksi kejahatan. Masing-masing mencegat mobil dua kali dan mengambil motor dua kali. ’’Tetapi, kami tidak melukai korban. Senpi tersebut kebetulan milik Herdiansyah dan dititipkan ke kami,” kata kedua tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini.

Dari hasil penjualan, keduanya kompak mengatakan jika uang tersebut digunakan untuk keperluan sehari-hari. Mengingat tak memiliki pekerjaan tetap dan hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP).

’’Komplotan ini sebenarnya berjumlah enam orang. Jadi masih ada tiga orang yang buron, yaitu inisial MS, ED, JH yang hingga kini terus kami kejar,” tandasnya.

Kapten Kelompok Lampung Tewas Didor

Di bagian lain, tim Opsnal Unit V Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menembak mati Doni (31), perampok sadis asal Negaraagung, Lampung, dini hari kemarin. Doni merupakan regenerasi yang dibina kelompok Lampung sejak remaja.

Plh. Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Eko Hadi Santoso menjelaskan, Doni merupakan anggota komplotan Andreas Sofyan alias Lemos –gembong perampok– yang juga ditembak mati tim resmob di depan Mal Graha Cijantung, Jaktim, beberapa bulan lalu.

’’Setelah Lemos tewas, Doni kemudian mengambil alih kelompok tersebut dan menjadi ’kaptennya” (pimpinan kelompok, Red),” kata Eko kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, kemarin.
Doni sebelumnya ditangkap di kawasan Jakarta. Pada dini hari tadi, dia digelandang petugas kepolisian untuk pengembangan ke Bogor, Jabar.

“Doni ini yang memegang senpi revolver yang telah kami sita,” tambahnya.
Namun, saat itu Doni berupaya melarikan diri dan berupaya merampas senpi petugas kepolisian. Akhirnya, anggota pun melakukan tindakan tegas dengan memberikan tembakan terarah setelah diberi tembakan peringatan. Doni meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

“Doni ini pelaku curas curanmor atau yang dikenal bahasa media sebagai begal. Dia dikenal sadis dalam melakukan aksinya,” imbuh Eko.

Selain Doni, polisi juga menangkap Suni Alamsah (30) yang merupakan anggota komplotan. Suni bertugas sebagai pemetik (pencuri) motor.

“Sasaran mereka sebenarnya motor-motor yang diparkir di pinggir jalan. Tetapi kalau korban melawan, mereka tidak segan-segan untuk menembak,” lanjutnya.

Sementara itu, Kanit V Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Handik Zusen mengatakan, Doni awalnya bergabung dengan Lemos sejak berusia belasan tahun. “Dia dibawa oleh Lemos ke Jakarta dan dididik untuk mencuri motor,” kata Handik.

Awalnya, Doni dikader oleh Lemos sebagai joki yang bertugas membonceng. Setelah lama bergabung dengan kelompok Lemos, Doni kemudian diajari bagaimana caranya mencongkel kunci kontak motor.

“Sampai akhirnya dia udah lihai metik motor, dia kemudian dipercaya memegang senjata api,” ungkapnya.
Ditambahkan, Doni Cs sudah puluhan kali melakukan aksi pembegalan di wilayah Jabodetabek. Motor-motor hasil kejahatan, dijual ke penadah.

Terpisah, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan, pengkaderan anggota baru dalam suatu kelompok kejahatan, biasa terjadi.

’’Kalau ada pimpinan atau anggotanya yang tertangkap, mereka ini kan butuh ’pemain’ baru, sehingga mereka merekrut anggota baru. Anggota baru ini ada yang direkrut di lapas, ada juga yang direkrut dari tempat asal mereka,” jelas Krishna.

Untuk meyakinkan anggota baru agar mau bergabung, perekrut mengiming-imingi imbalan besar. ’’Intinya mereka dijanjikan pembagian hasil kejahatan,” terangnya. (Radarlampung)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=8961

Posted by on Agu 30 2015. Filed under Ekonomi, News, Opini, Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented