|

Kesaksian Mary Jane di Pengadilan Filipina Bisa Jadi Novum Ajukan PK

Jakarta – Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gajah Mada UGM Eddy O.S Hiariej mengatakan, masih terbuka kemungkinan bagi terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Veloso, untuk terhindar dari eksekusi mati. Menurut dia, kesaksian Mary Jane dalam persidangan perekrutnya, Maria Kristina Sergio, di Filipina dapat menjadi novum atau bukti baru untuk mengajukan peninjauan kembali.

“Kalau nanti dalam pengadilan di Filipina bisa membuktikan bahwa betul dia (Mary Jane) tidak tahu-menahu, maka bisa dijadikan novum untuk PK,” ujar Eddy saat dihubungi, Kamis (39/4/2015).

Diketahui, Mary Jane telah mengajukan dua kali PK dan grasi kepada Presiden Joko Widodo. Namun, semua permohonan tersebut ditolak. Eddy mengatakan, Mary Jane masih bisa mengajukan PK dengan novum tersebut karena tidak ada batasan dalam pengajuan KPK.

Eddy mengakui bahwa upaya hukum tersebut tidak akan menghapus hukuman terhadap Mary Jane, namun setidaknya hukuman tersebut akan diringankan.

“Mungkin dikurangi jadi seumur hidup atau 20-30 tahun. Bisa sangat mungkin,” kata Eddy.

Dalam persidangan kasusnya, Mary Jane konsisten mengaku tidak mengetahui bahwa koper yang dititipkan kepadanya berisi 2,6 kilogram heroin. Saat itu, ia mengaku bahwa koper tersebut bukan miliknya, melainkan milik Maria Kristina.

“Jika dalam putusan pengadilan dinyatakan bahwa Mary Jane bukan pelaku utama, maka bisa dijadikan novum. Jadi menunggu dulu keputusan pengadilan di Filipina bagaimana,” ujar Eddy.

Kejaksaan Agung menunda eksekusi mati terhadap Mary Jane yang sedianya dilakukan pada Rabu (29/4/2015) dini hari. Penundaan dilakukan karena Pemerintah Filipina membutuhkan kesaksian Mary Jane setelah tersangka perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio, menyerahkan diri kepada kepolisian Filipina, Selasa (28/4/2015).

Pada Maret lalu, Badan Pemberantasan Narkoba Filipina (PDEA) pernah memeriksa Mary Jane di Indonesia. Saat itu, Mary Jane memberikan pernyataan di bawah sumpah terkait proses perekrutan dirinya dan orang yang memberinya tas berisi heroin seberat 2,6 kilogram yang membuatnya ditangkap aparat keamanan Indonesia.

Kepada petugas PDEA, Mary Jane mengatakan, dia bertemu dengan Maria Kristina dan Ike di Petaling Jaya, Malaysia. Sebelumnya, kedua orang itu menjanjikan pekerjaan sebagai PRT untuk Mary Jane di Malaysia. Namun, keduanya menyuruh Mary Jane pergi ke Indonesia dan Ike memberinya sebuah tas yang ternyata berisi heroin.(Kompas)

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=6337

Posted by on Apr 30 2015. Filed under Tak Berkategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented