|

Aniaya Wartawan, Mantan Kapolres Siantar Dihukum 2 Bulan

Medan (DN) -  Mantan Kapolres Pematangsiantar, AKBP Fatori SIk (45), dihukum dua bulan kurungan penjara, karena terbukti bersalah menganiaya wartawan TV di Siantar, Andi I Siahaan SP pada tahun 2010 lalu, sesuai dengan pasal 351 ayat 1 KUHPidana.

Putusan hukuman kepada perwira melati dua yang saat ini bertugas di Polda Sumut tersebut dikeluarkan oleh Mahkamah Agung RI bernomor 1992K/Pid/2012, setelah jaksa penuntut umum (JPU) R Nainggolan melakukan kasasi pada Agustus 2012 lalu atas putusan Pengadilan Tinggi Medan No.226/Pid/2012/PT.MDN 12 Juli 2012 yang menyatakan Fatori bersalah dan dihukum 4 bulan percobaan (tanpa dipenjara).

Dalam salinan putusan MA tersebut juga menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Siantar No.315/Pid.B/2011/PN,PMS tanggal 22 Februari 2012 yang menyatakan Fatori harus dihukum penjara 2 bulan, membayar biaya perkara Rp 5 ribu dan sarung tinju merk Rocky yang digunakan Fatori saat menganiaya Andi, disita untuk dimusnahkan.

Andi Siahaan yang dikonfirmasi, melalui siaran persnya yang diterima SP, Sabtu (28/12) pagi, mengatakan bahwa dirinya selaku korban dalam kasus tersebut belum mendapat salinan MA tersebut. “Saya tahu, dari website MA,” kata Andi. Disebutkannya, terkait eksekusi putusan MA tersebut, Andi menyerahkan seluruhnya ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Saya serahkan ke jaksa, untuk eksekusinya,” ujarnya.

Di akhir konfirmasinya Andi mengatakan, putusan MA tersebut ternyata membuktikan masih ada keadilan bagi rakyat kecil. ” Saya juga mengapresiasi putusan MA yang membatalkan putusan PT Medan yang hanya memvonis dengan hukuman percobaan,” sebut Andi.

Di dalam dakwaan jaksa sebelumnya, Selasa (30/11) tahun 2010 lalu sekira jam 16.15 wib, Fatori menganiaya Andi di ruang olahraga Mapolresta Siantar saat itu ketika berada di Jalan Patuan Anggi, Kecamatan Siantar Utara (Polsek Siantar Utara saat ini). Penganiayaan tersebut bermula, ketika Andi yang menolak untuk dipindahkan ke ruang  tahanan 2 dari ruang tahanan 4. Saat itu, ajudan Fatori bernama Briptu Rudianto memberitahukan kepada Fatori kalau Andi menolak pemindahan ruang tahanan sesuai dengan instruksi Kapolres saat itu, yakni Fatori.

Mendengar laporan ajudannya, Fatori langsung mendatangi ruang olahraga dan memanggil Andi dan menanyakan mengapa Andi tidak mau dipindahkan serta langsung menganiaya Andi menggunakan sarung tinju. Penganayaan itu disaksikan tahanan lainnya yang menjadi saksi atas kasus tersebut. [Suarapembaruan]

Short URL: http://detiknusantara.com/?p=1447

Posted by on Des 29 2013. Filed under Tak Berkategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*

iklan 1

header

Recently Commented